SIYASAH SYAR’IYYAH (POLITIK SYAR’I) Antara Kebutuhan & Penyimpangan

politik untuk kemanusiaan

politik untuk kemanusiaan

Siyasah (politik) adalah salah satu warisan para nabi, sebab Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

“Adalah Bani Israil, para nabi telah membimbing mereka.” (HR. Bukhari dari Abu Hurairah ra.)

Kalimat  (mereka membimbing) satu akar dengan (politik) yaitu dari kata – saasa, yang artinya mengatur, menjaga, memelihara, dan mengurus. Kalimat  – saasa al Qauma artinya mengatur mereka dan mengurus urusan mereka. Al Munjid wal I’lam hal.362. Dari sini, kita fahami bahwa siyasah adalah upaya membimbing, mengurus, mengatur, memelihara, dan menjaga manusia. Jadi, pada dasarnya, siyasah -sesuai dengan makna bahasanya- adalah perbuatan mulia dan agung, sebab ia pernah dilakukan oleh para nabi ‘alaihimus salam. Tentunya itu adalah siyasah syar’iyyah (politik syar’i) yang acuannya adalah Al Qur’an, As Sunnah, sirah nabawiyah, ijma’ dan ijtihad ulama.

Para ulama kita telah banyak membicarakan masalah politik dan kenegaraan dalam kitab-kitab mereka. Baik terintegrasi dengan pembahasan lainnya, seperti kitab-kitab fiqih besar yang membahas imarah dan imamah, atau kitab tersendiri seperti Ahkamus Sulthaniyah oleh Imam al Mawardy, Ahkamus Sulthaniyah juga oleh Imam Abu Ya’la al Farra’, Siyasah Syar’iyyah fi Ishlahir Ra’i war Ra’iyyah dan Al Hisbah oleh Imam Ibnu Taimiyah, Thuruq al Hukmiyah oleh Imam Ibnu Qayyim al Jauziyah, Min Fiqhid Daulah oleh Syaikh Yusuf al Qaradhawy, dan lain-lain. Artinya, para imam kita sangat perhatian terhadap masalah politik dan kenegaraan.

Seorang khalifatur rasyid, Utsman bin ‘Affan radhiallahu ‘anhu pernah berkata, “Kebatilan yang tidak bisa dihilangkan oleh kitabullah, akan Allah hilangkan melalui pedang penguasa.”

‘Alim Rabbani al ‘Allamah Ibnul Qayyim menukil ucapan Imam Abu Wafa bin ‘Aqil al Hambali bahwa siyasah merupakan tindakan atau perbuatan yang dengannya seseorang lebih dekat kepada kebaikan dan lebih jauh dari kerusakan, selama politik itu tidak bertentangan dengan syara’.

Imam Ibnul Qayyim dalam Thuruq al Hukmiyah juga berkata, “Sesungguhnya politik yang adil tidak bertentangan dengan syara’, bahkan sesuai dengan ajarannya dan merupakan bagian darinya.”

Hujjatul Islam, Imam al Ghazaly dalam Al Ihya’ berkata, “Kekuasaan dan agama adalah saudara kembar, agama sebagai fondasi dan kekuasaan sebagai penjaga. Sesuatu tanpa fondasi akan runtuh dan sesuatu tanpa penjaga akan lenyap.”

Imam Ahmad bin Hambal berkata, ‘Fitnah (kekacauan) akan terjadi jika tidak ada pemimpin yang mengatur urusan orang banyak.”

Imam Abu Hasan al Mawardi dalam AhkamusSulthaniyah berkata, “Imamah ditegakkan sebagai salah satu sarana untuk meneruskan Khilafatun Nubuwahdalam rangka memelihara agama dan mengatur urusan dunia. Menegakkannva di tengah-tengah umat adalah wajib berdasarkan ijma’ bagi yang berwenang untuk itu.”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah -rahimahullah- dalam Siyasah Syar’iyyah-nya : “Wajib diketahui bahwa penguasaan terhadap urusan umat, termasuk kewajiban agama terbesar, bahkan agama tidak akan tegak tanpa adanya penguasaan terhadap urusan umat ini. Sesungguhnya, kemaslahatan anak manusia hanya akan terwujud jika mereka hidup saling berkumpul, sebab satu sama lain saling membutuhkan. Dan tentunya, mereka harus memiliki seorang pemimpin pada saat mereka berkumpul menjadi satu”.

Nabi bersabda: “Jika ada tiga orang melakukan safar (bepergian), maka hendaknya mereka mengangkat salah seorang di antaranya menjadi amir (pemimpin).” (HR. Abu Daud, dari Abu Said dan Abu Hurairah)

Imam Ahmad meriwayatkan dalam Musnadnya, dari Abdullah bin Amr, sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda : “Tidak halal bagi tiga orang yang berada di tengah padang sahara, melainkan mereka harus mengangkat salah seorang di antara mereka sebagai amir (pemimpin).”

Melalui (kedua) hadits di atas, Nabi ASW  menetapkan perintah untuk mengangkat seorang amir dalam sebuah perkumpulan kecil yang hendak melakukan safar. Hal itu memberikan peringatan akan perlunya mengangkat seorang amir dalam segala macam perkumpulan apapun.

Di sisi lain, Allah juga telah menetapkan kewajiban amar ma’ruf nahi munkar, tentu hal itu tidak akan terwujud tanpa adanya kekuatan dan kekuasaan. Demikian pula seluruh kewajiban lain seperti jihad, keadilan, pelaksanaan haji, shalat jum’at, hari raya, pembelaan terhadap orang-orang yang terzalimi dan pelaksanaan hukum pidana. Semuanya tiada akan terwujud dengan baik tanpa adanya kekuatan dan kekuasaan.

Itulah mengapa diriwayatkan dalam sebuah hadits, “Seorang sultan adalah naungan Allah di muka bumi. ” Itulah mengapa dikatakan bahwa, Enam puluh tahun di bawah penguasa yang zhalim, masih lebih baik dari pada satu malam tanpa pemimpin.” Pengalaman sudah membuktikan hal tersebut. Oleh sebab itu para ulama salaf seperti Fudhail bin ‘Iyyadh, Ahmad bin Hambal, dan lainnya, sampai mengatakan: “Kalau saya punya do’a yang mustajab tentu akan saya do’akan kebaikan bagi sultan.” Sampai di sini darl Imam Ibnu Taimiyah

Ringkasnya, siyasah dengan pemahaman dan paradigma di atas adalah salah satu kewajiban terbesar dalam agama. Wallahu A’lam.

 

Sumber: Risalah pergerakan & Politik

ARAB PRA ISLAM [Part II]

Majusi Persia di Semenanjung Arab

teritorial of persia

teritorial of persia

Saat itu kehidupan agama Majusi di Persia juga mengalami kemunduran seperti agama Masehi dalam Imperium Roma. Penyembahan api dalam agama Majusi merupakan gejala yang menonjol tampak dari luar, namun hal berkaitan dengan dewa kebaikan dan kejahatan masing-masing pengikutnya telah berpecah belah menjadi beberapa sekte. Tetapi disini bukan tempatnya kita menguraikan  semua itu. Sungguhpun begitu, kekuasaan politik Persia tetap kuat juga. Polemik keagamaan tentang lukisan dewa serta adanya pemikiran bebas yang tergambar dibalik lukisan itu, tidaklah mempengaruhinya. Golongan-golongan agama yang berbeda-beda semua berlindung di bawah raja Persia. Pertentang itu sengaja dilakukan sebagai suatu cara supaya satu dengan yang lain saling bermusuhan, karena dikhawatirkan, bila salah satunya men;jadi kuat, maka Raja atau salah satu golongan itu akan memikul akibatnya.

Kedua kekuatan yang sekarang sedang berhadap-hadapan itu adalah kekuatan Kristen dan kekuatan Majusi, kekuatan Barat berhadapan dengan kekuatan Timur. Bersamaan dengan itu kekuasaan-kekuasaan kecil yang berada dibawah pengaruh kedua kekuatan itu, pada awal abad keenam berada disekitar semenanjung Arab. Kedua kekuatan itu masing-masing punya hasrat mengadakan  ekspansi dan menjajah. Pemuka-pemuka kedua agama itu masing-masing berusaha sekuat tenaga akan menyebarkan agamanya keatas kepercayaan agama lain yang sudah dianutnya. Sungguhpun begitu, semenanjung Arab itu tetap seperti sebuah oasis yang kekar tak terjamah oleh peperangan, kecuali pada beberapa tempat di bagian pinggir saja, juga tak sampai terjamah oleh penyebaran agama-agama Masehi atau Majusi, kecuali sebagin keccil pada beberapa kabilah. Gejala demikian ini dalam sejarah kadang tampak aneh kalau kita tidak lihat letak dan iklim Semenanjung Arab itu serta pengaruh keduanya terhadap kehidupan penduduknya, dalam aneka macam perbedaan dan persamaan serta kecenderungan hidup mereka masing-masing.

Antara Dua Kekuatan

Semenanjung atau Jazirah Arab bentuknya memanjang dan tidak segi empat genjang (parallelogram). Ke sebelah utara Palestina dan padang Syam, kesebelah timur Hira, Dijlah (Tigris), Furat, dan Teluk Persia, kesebelah selatan samudera Hindia dan Teluk aden sedang kesebelah barat Laut Merah. Jadi, dari sebelah barat dan selatan daerah ini dilingkungi lautan, sedangkan dari utara dan timur dilingkungi padang sahara dan Teluk Persia. Tetapi bukan rintangan itu saja yang melindunginya dari serangan penyerbuan penjajah dan penyebaran Agama, melainkan juga karena jaraknya yang berjauhan. Panjang semenanjung Arab itu melebihi seribu kilometer, dan luasnya sampi seribu kilometer pula. Dan yang lebih melindunginya lagi tandusnya daerah ini yang luar biasa hingga semua penjajah merasa enggan melihatnya. Dalam daerah yang luas itu sungai pun tidak ada. Musim hujan yang di jadikan pegangan dalam mengatur usaha juga tidak menentu. Kecuali daerah Yaman yang terletak disebelah selatan yang sangat subur tanahnya dan cukup banyak curah hujannya, wilayah Arab lainnya terdiri dari gunung-gunung, dataran tinggi, lembah-lembah tandus serta alam yang gersang. Tak mudah orang dapat tinggal menetap atau akan memperoleh kemajuan. Sama sekali hidup didaerah itu tidak menarik selain hidup mengembara terus-menerus dengan mempergunakan unta sebagai kapalnya ditengah-tengah lautan padang pasir, sambil mencari ladang hijau untuk makanan ternaknya, beristirahat sebentar sambil menunggu ternak itu menghabiskan makanannya. Sesudah itu berangkat lagi mencari padang hijau baru ditemapat lain. Tempat-tempat beternak yang dicari orang-orang Badui Jazirah biasanya disekitar mata air yang menyumber dari bekas hujan, air hujan yang turun dari celah-celah batu di daerah itu. Dari situlah tumbuhnya padang hijau yang terserak disana-sini dalam oase-oase yang berada disekitar mata air.

Tidak Dikenal, Selain Yaman

Yaman

Yaman

Sudah wajar sekali dalam wilayah demikian itu, yang seperti sahara Afrika Raya yang luas, tak ada orang yang dapat hidup menetap, dan cara hidup manusia yang biasapun tidak dikenal. Orang yang tinggal didaerah itu tidak lebih dari sekedar menjelajahinya dan menyelamatkan diri saja_kecuali di tempat-tempat yang tak seberapa, yang masih ditumbuhi rumput dan tempat beternak. Juga sudah wajar pula tempa-tempat itu tidak dikenal karena sedikitnya orang yang mau mengembara dan mau menjelajahi daerah itu. Praktis orang zaman dahulu tidak mengenal Semenanjung Arab, selain Yaman. Hanya saja letak itu dapat menyelamatkannya dari pengosongan penduduk dan mereka dapat bertahan diri.

Pada masa itu orang belum merasa begitu aman mengarungi lautan guna mengangkut barang dagangan atau mengadakan pelayaran. Dari peribahasa Arab yang dapat kita lihat sekarang menunjukkan, bahwa ketakutan orang menghadapi lautan sama seperti dalam mengahadapi maut. Tetapi, bagaimanapun juga untuk mengangkut barang dagangan harus ada jalan lain selain mengarungi laut, yang paling penting transportasi perdagangan masa itu harus ada antara Timur dan Barat: antara Romawi dan daerah-daerah sekitarnya, serta India dan sekitarnya. Semenanjung Arab masa itu merupakan daerah lalu lintas perdagangan yang dapat dicapai melalui Mesir atau melalui Teluk Persia, lewat terusan yang terletak di mulut Teluk Persia.

Raja-raja Padang Pasir

Sudah wajar sekali bilamana penduduk pedalaman semenanjung Arab itu menjadi raja sahara, sama halnya seperti pelaut-pelaut pada masa-masa berikutnya yang daerahnya kekuasaannya lebih banyak wilayah air dari pada daratan, menjadi raja lautan. Dan sudah wajar pula bilamana raja-raja padang pasir itu mengenal seluk-beluk jalan para kafilah sampai ketempat-tempat berbahaya, sama halnya seperti para pelaut, mereka sudah mengenal garis-garis perjalanan kapal sampai sejauh-jauhnya. “Jalan kafilah itu bukan dibiarkan begitu saja,” kata Heeren, “tetapi sudah menjadi tempat tetap yang mereka lalui. Didaerah padang pasir yang luas itu, yang biasa dilalui para kafilah, alam telah memberikan tempat tertentu kepada mereka, terpencar-pencar didaerah tandus, yang kelak menjadi tempat mereka beristirahat. Ditempat itu, dibawah naungan pohon-pohon kurma dan ditepi air tawar yang mengalir disekitarnya, seorang pedagang dengan binatang bebannya dapat menghilangkan haus dahaga sesudah perjalanan yang melelahkan. Tempat-tempat peristiahatan itu juga yang menjadi gudang perdagangan mereka, dan sebagian lagi dipakai sebagai tempat penyembahan, tempat ia meminta perlindungan atas barang dagangannya atau meminta pertolongan dari tempat itu.

Lalu Lintas Kafilah

kafilah semenanjung

kafilah semenanjung

Lingkungan semenanjung itu penuh dengan jalan kafilah. Yang penting diantaranya ada dua. Yang satu berbatasan dengan Teluk Persia, Sungai Tigris, bertemu dengan padang syam dan palestina. Itulah sebabnya mengapa batas-batas daerah sebelah timur yang berdekatan itu diberi nama Jalan Timur; sedang yang satu lagi berbatasan dengan Laut Merah, dank arena itu diberi nama Jalan Barat. Melalui dua jalan inilah produksi jalan-jalan di Barat diangkut ke Timur dan barang-barang dari timur diangkut ke Barat. Dengan demikian daerah pedalaman itu mendapatkan kemakmurannya.

Tetapi itu tidak menambah pengetahuan pihak Barat tentang negeri-negeri yang dilalui perdagangan mereka. Karena sukarnya menempuh daerah-daerah itu, baik pihak Barat maupun pihak Timur sedikit sekali yang mau mengarunginya_kecuali bagi mereka yang sudah biasa sejak masa mudanya. Sedang mereka yang berani dengan untung-untungan mempertaruhkan nyawa, banyak yang hilang secara sia-sia ditengah-tengah padang tandus itu. Bagi orang yang sudah biasa hidup mewah ditengah kota, tidak akan tahan menempuh pegunungan tandus yang memisahkan Tiamah dari pantai Laut Merah dengan satu daerah yang sempit itu. Kalaupun pada waktu itu ada juga orang yang sampai ketempat tersebut_yang hanya mengenal unta sebagai sarananya_ia akan mendaki celah-celah pegunungan yang akhirnya akan menyeberang samapai ke dataran tinggi Najd yang dikuasai padang pasir. Orang yang sudah biasa hidup dalam system politik yang teratur dan dapat menjamin segala kepuasannya, akan terasa berat sekali hidup dalam suasana pedalaman yang tidak mengenal tata tertib kenegaraan. Setiap kabilah atau setiap keluarga, bahka setiap peribadi pun tidak punya suatu system hubungan dengan pihak lain selain ikatan keluarga atau kabilah atau ikatan sumpah setia kawan atau system jiwar (perlindungan tetangga) yang diminta oleh pihak yang lemah kepada yang lebih kuat. Pada setiap zaman tata kehidupan bangsa-bangsa peadalaman itu memang berbeda dengan tata kehidupan di kota-kota. Ia sudah puas dengan cara hidup saling mengadakan pembalasan, melawan permusuhan dengan permusuhan, menindas yang lemah yang tak punya pelindung. Keadaan semacam ini tidak menarik perhatian orang untuk membuat penelitian lebih dalam.

Oleh karena itu daerah semenanjung ini tetap tidak dikenal dunia pada waktu itu. Dan barulah kemudian_sesudah Muhammad ‘alaihis-salãtu was-salãm lahir di tempat tersebut_orang mulai mengenal sejarahnya dari berita-berita yang dibawa orang dari tempat itu, dan daerah yang tadinya sama sekali tertutup sekarang sudah mulai dikenal dunia.

Sumber : Sejarah Hidup Muhammad_Oleh Dr. Muhammad Husain Haekal

 

PARA PENGUSUNG PESAN PROFETIS


Para pengusung Rislah

Para pengusung Rislah

Sejarah sering menyadarkan kita, perubahan dahsyat dalam masyarakat yang membingungkan atau membuat kita kehilangan arah, ternyata memiliki akar kontinyuitas jauh dimasa lampau. Dengan pendekatan sejarah, sangat mungkin tantangan perubahan akan mudah dikenali (kuntowijoyo 1993). Dulu, dalam sejarah, telah tercatat dengan tinta emas para pahlawan muda (hampir semuanya muda dan terpelajar tentunya). Mereka menggoreskan pena dilembar peradaban manusia. Siapa saja mereka?

“Maju, meski sendiri.” Ujar Ibrahim. Sejarah panjang Ibrahim senantiasa diiringi oleh peristiwa-peristiwa kesejarahan hebat yang (subhanallah) dilakukannya sendirian. Ideologi tauhid yang dia miliki dan perubahan yang harus dia lakukan dalam masyarakatnya, menemui tembok yang tebal, yaitu bapaknya sendiri. Pendidikan masyarakat yang dia lakukan dengan cerdas dan ilmiah_ingat diskusinyandengan Namrudz tentang Tuhan_harus berhadapan dengan masyarakat dan Negara sekaligus.

Sebuah tantangan besar, sebagaimana kondisi kontemporer sekarang ketika mahasiswa harus berhadapan dengan masyarakat yang agak ‘membenci’ aksi-aksi demonstrasi dan kritik sosial politik mahasiswa. Pilihan Ibrahim adalah maju dan terjunlah ia kedalam api, setelah berhasi melahirkan generasi baru yang ‘tahan banting’ untuk mengikuti milah-Nya.

“Dan kami pun memilih minggir,” ujar Ashabul Kahfi. Ketika masyarakat (dan Negara) kembali menghadang proses perubahan, pilihan lain adalah menyingkir sementara (memarginalisasikan diri). Tindakan ini adalah sebuah pilihan mahasiswa idealis ketika ide yang mereka bangun dan miliki, terhadang. Sebuah pilihan terberat bagi sebuah perubahan adalah pengasingan diri (‘uzlah) demi mempertahankan kemurnian ideology dengan keyakinan.

“Dan apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, Maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu, niscaya Tuhanmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusan kamu” (QS. Al-Kahfi: 16). Tentu, dengan optimisme bahwa mereka akan mendapat kekuatan (jasmani dan rohani) baru untuk melanjutkan perubahan.

“Perubahan, sampai detik terakhir,” tekad ashabul Ukhdud. Proses perubahan masyarakat selalu membutuhkan waktu (evolutif) ketika syarat revolusi tidak terpenuhi. Nasehat dari pemuda Ashabul Ukhdud untuk mahasiswa kontemporer adalah bahwa proses perubahan tidak mengenal waktu berhenti.

Perubahan  harus tetap dilakukan sampai detik terakhir. “Momentum perubahan” sesungguhnya adalah hal yang dapat dibuat. Proses pendidikan dan pemberdayaan masyarakat adalah proses pembuatan momentum itu sendiri. Ketika masyarakat telah tersadarkan, merekalah pembuat perubahan itu sendiri. Hal lain yang patut dipikirkan adalah, masyarakat adalah pihak yang selalu paling mudah menerima perubahan (karena mereka adalah konsumen perubahan itu sendiri) dan negara selalu saja adalah tembok terakhir pengahadang perubahan.

“Kami semua anak muda ,” kata para pemuda di sekitar Rasulullah. Islam, pada awalnya ditegakkan oleh sekelompok pemuda, seperti Utsman, Ali dan Zaid_yang tertua adalah Abu Bakar (usianya tiga tahun di bawah Rasul). Sejarah kemudian mencatat, bahwa muda dalam Islam tidak berarti pendiam. Lihatlah Bilal, Shuhaib bin Sinan ar-Rumi, Salman al-Farisi adalah pendukung kuat Rasulullah dalam menjalankan seluruh strategi dakwahnya.

Sumber:

IJTIHAD Membangun Basis Gerakan_Amin Sudarsono [Ketua Departemen Kastrat PP-KAMMI]

 

SERUAN KEPADA PEMUDA

Wahai pemuda !

Pemuda dan Perubahan

Pemuda dan Perubahan

Suatu gagasan baru akan berhasil, jika dilandasi dengan keimanan yang kuat dan keikhlasan serta ditopang dengan semangat dan kesiapan berkorban dari pendukungnya untuk menegakkan gagasan tersebut. Keimanan, keikhlasan, semangat, dan kesiapan berkorban adalah merupakan karakter yang (semestinya) melekat pada diri pemuda. Landasan sebuah keimanan adalah nurani yang hidup, landasan sebuah keikhlasan adalah hati yang bersih, landasan semangat adalah perasaan yang menggelora, dan landasan kesiapan berkorban adalah tekad yang membaja. Itu semua dimiliki oleh pemuda. Oleh karena itu sejak dulu hingga kini, pemuda adalah merupakan pilar kebangkitan ummat ( الشَّبَابُ عِمَادُ نَحْضَةُ الْاُمَّة )  Dalam setiap kebangkitan, pemuda adalah rahasia kekuatannya. Dalam setiap ideologi, pemuda adalah pengibar panji-panjinya.

Ingatlah kisah perjuangan Pemuda Kahfi :

Kami ceritakan kisah mereka kepadamu (Muhammad) dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk. (18:13).

Wahai pemuda !

Muhammad Al-Fatih sosok Pemuda Tangguh

Muhammad Al-Fatih sosok Pemuda Tangguh

Sesungguhnya banyak kewajiban kalian, besar tanggung jawab kalian, semakin berlipat-lipat hak ummat yang harus kalian tunaikan, dan semakin berat amanat yang terpikul dipundak kalian. Kalian harus berfikir panjang, banyak beramal, bijak dalam menentukan sikap, berjuang untuk menyelamatkan Islam, dan hendaklah kalian mampu menunaikan hak-hak ummat dengan sempurna.

Adakalanya pemuda tumbuh dalam situasi bangsa yang tenang tanpa gejolak, pemerintahannya maju dan kuat. Sehingga pemuda yang tumbuh dalam situasi seperti ini perhatian dan aktifitasnya banyak tertuju kepada dirinya sendiri daripada untuk ummat, hidupnya cenderung bersikap santai, main-main bahkan hura-hura.

Ada juga pemuda yang tumbuh dalam suasana keras dan bergolak, dimana bangsa itu sedang dikuasai oleh lawannya dan dalam semua urusannya diperbudak oleh musuhnya. Bangsa tersebut berjuang menuntut kembali hak-hak yang dirampas, kekayaan yang direbut, dan kemerdekaan yang direnggut, berjuang mengembalikan kejayaan dan nilai-nilai agung yang hilang. Pemuda yang hidup dalam kondisi seperti ini terpanggil untuk mencurahkan perhatian dan berbuat bagi bangsanya lebih banyak daripada untuk dirinya sendiri.  Jika pemuda melakukan hal itu, maka kemenangan akan segera diraih di dunia dan atau mendapatkan kenikmatan di akhirat  dari Alloh SWT.

Beruntunglah, jika kita termasuk kelompok yang ke dua ini dimana kita terus berjihad dan berjuang bersama ummat di jalan kebenaran untuk mendapatkan hak-hak dan memperoleh kemuliaan. Oleh karena itu wahai pemuda ! selalu bersiap-siaplah. Sungguh alangkah dekatnya kemenangan bagi orang-orang yang beriman dan betapa besarnya keberhasilan dan kesuksesan bagi orang-orang yang berjuang secara tekun dan terus menerus, tak pernah berhenti berjuang.

Wahai pemuda !

Terdapat masalah penting dalam suatu bangsa yang sedang bangkit, yaitu munculnya perbedaan pandangan, beragam isme, berbagai propaganda, warna-warninya sistem, perbedaan dalam penerapan strategi dan sarana perjuangan, dan banyaknya orang yang berambisi menjadi pemimpin dan penguasa. Itu semua dapat menjadi pemecah belah kekuatan dan penghalang mencapai tujuan.  Oleh karena itu mempelajari, membandingkan dan mempertimbangkan berbagai propaganda atau isme-isme menjadi amat penting bagi siapa saja yang menginginkan perbaikan. Dan yang lebih penting lagi, kita harus mengetahui bagaimana Sistem Dakwah Islamiyyah yang menjadi tumpuan kebangkitan dan perbaikan ummat saai ini.

Wahai pemuda Islam !

islam

islam

Kita sama-sama yakin bahwa satu-satunya ideologi yang dapat menyelamatkan dunia dari penindasan dan  membimbing manusia ke jalan yang lurus, adalah ideologi Islam. Islam yang hanif , tiada cacat di dalamnya, tiada setitik noda yang menyelimutinya, dan tidak akan sesat bagi yang mengikutinya.

Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam. ( 3: 19 )

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni`mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.(5:3)

Oleh karena itu, ideologi kita adalah Islam. Kita bersandar, bersumber dan berjuang untuk meninggikan kalimat Alloh. Tiada sistem yang dapat menandingi Islam. Kita tidak mungkin rela menggunakan sistem selain Islam, tidak akan sudi menjadikan selain Islam sebagai imam, kita hanya patuh pada hukum yang diambil dari Islam.

Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.(3:85)

Wahai pemuda Islam !

Palestina

Palestina

Telah datang suatu masa di mana Islam dan kaum Muslimin tertimpa bencana dan bahaya. Karena musuh-musuh Islam berusaha memadamkan sinar cemerlangnya Islam, menyembunyikan keagungannya, menyesatkan para pengikutnya, melenyapkan hukum-hukumnya, melemahkan pembela-pembelanya, serta mendangkalkan dan menyelewengkan ajarannya. Jatuhnya kekuasaan politik Islam, melemahnya Islam dari pentas politik, semakin menajamkan bencana tersebut, maka jatuhlah bangsa ini ke dalam genggaman kaum kafir dalam keadaan hina dan tak berdaya sehingga mudahlah orang-orang kafir menindas ummat Islam.

Oleh karena itu yang harus digarap adalah dakwah dengan menerangkan syariat Islam dengan jelas, lengkap dan tepat kepada seluruh ummat manusia, kemudian pada saat yang bersamaan kita harus berjuang mewujudkan dan melaksanakan ajaran Islam dalam amal nyata. Dan pegangan ummat Islam adalah Kitabulloh yang tidak ada keraguan di dalamnya serta Sunnah yang shahih dari Rasululloh SAW dan sirah kaum salaf dari ummat Islam. Semua itu harus dilakukan untuk melaksanakan kewajiban, membimbing manusia, dan menunjuki mereka. Semua itu kita lakukan hanya untuk mencapai ridha Alloh.

Wahai pemuda Islam !

Kita berjuang untuk melaksanakan ideologi Islam, mempertahankan selama hayat masih dikandung badan. Kita menyeru agar seluruh ummat manusia bersedia diajak hidup di bawah panji-panji Islam. Dengan demikian bagi kita hidup ataupun mati tetap mulia bersama Islam.

Semboyan kita adalah : Alloh tujuan kami, Rasul pemimpin kami, Al-Qur’an Undang-undang kami, Jihad jalan kami, dan mati di jalan Alloh cita-cita mulia kami !!!

Wahai pemuda Islam !

Sesungguhnya Alloh telah memuliakan kalian, dengan beriman kepada Alloh dan tumbuh atas dasar Islam. Dan Alloh telah menetapkan atas kalian derajat yang tinggi sebagai pemimpin bagi seluruh isi alam.

Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kami (2:143).

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. (3:110).

Oleh karena itu kalian harus percaya diri, harus tahu kedudukan kalian, dan harus yakin bahwa kalian adalah pewaris kepemimpinan dunia, walaupun musuh-musuh kalian selalu menghendaki agar kalian tetap terhina. Yakinlah bahwa kamu adalah panutan bagi dunia, walaupun pihak-pihak selain kalian berusaha mengungguli dengan gebyar  kehidupan dunia. Sesungguhnya kesudahan terbaik adalah bagi orang-orang yang bertaqwa.

Wahai pemuda Islam !

Perbaharuilah iman dan canangkan tujuan langkah kalian ! Sesungguhnya kekuatan pertama adalah iman. Iman melahirkan persatuan, selanjutnya membuahkan kemenangan yang gilang gemilang. Berimanlah kalian, eratkanlah ukhwah, binalah persaudaraan, bekerja dengan sungguh-sungguh, dan waspadalah terhadap musuh, Insya Alloh kemenangan akan tiba.

Wahai pemuda Islam !

Dunia kini sedang kacau dan gelisah. Semua sistem yang ada telah gagal melakukan perbaikan. Sesungguhnya tidak ada jalan keluar dari permasalahan kecuali Islam, maka tampilah dengan nama Alloh untuk menyelamatkan dunia. Seluruh manusia menantikan juru selamat. Juru selamat itu tidak lain kecuali Risalah Islam yang kalian da’wahkan, yang kalian nyalakan obornya, yang kalian bawa lenteranya dan kalian memberi kabar gembira kepada manusia dengan keberadaannya.

Wahai pemuda Islam !

Imperium Islam

Imperium Islam

Sistem bekerja kita telah jelas tahapan dan langkah-langkahnya. Kita tahu apa yang kita inginkan, dan kita mengerti cara apa yang harus ditempuh dalam mewujudkan cita-cita itu. Upayakan sekuat tenaga agar dapat terealisasi dalam diri dan masyarakat. Tahapan-tahapan kerja itu adalah :

Membentuk pribadi-pribadi muslim paripurna, baik dalam pola pikir dan aqidahnya, dalam moralitas dan perasaannya, serta dalam amal dan perilakunya. akhlak dan amalnya.

  1. Membina rumah tangga yang Islami, baik dalam pola pikir, aqidah, moralitas, perasaan dan tingkah laku. Oleh karena itu kita sangat memperhatikan kaum wanita sebagaimana kaum pria, sangat memperhatikan anak-anak sebagaimana terhadap pemuda.
  2. Membina suatu masyarakat yang Islami dalam segala aspek kehidupan. Membina masyarakat agar melaksanakan da’wah kepada kebaikan, menyebarkan keutamaan, memberantas kemungkaran dan menghilangkan hal-hal tercela. Maka kita berusaha agar dakwah Islam dapat diserukan ke setiap pelosok, dapat di dengar di semua tempat. Kita berusaha agar gagasan-gagasan kita berkembang sampai ke desa-desa dan ke kota-kota. Untuk itu kita tidak akan menyia-nyiakan setiap potensi dan sarana yang ada.
  3. Membangun sebuah pemerintahan Islami, yang bisa memimpin masyarakatnya ke masjid dan membimbing manusia kepada petunjuk Islam. Kita tidak membenarkan sistem pemerintahan apapun yang tidak berdasarkan prinsip Islam, dan tidak bertumpu pada asas Islam.
  4. Menyatukan semua bagian negeri-negeri Islam yang telah terpecah belah. Setiap jengkal tanah yang di dalamnya terdapat seorang muslim yang berseru “Laa ilaha illalloh”, adalah tanah air kita, tanah air Islam. Semuanya mesti dimerdekakan dan disatukan.
  5. Mengibarkan kembali panji-panji Islam di atas daerah-daerah yang pernah jaya dengan Islam, dimana takbir dan tahlil pernah berkumandang. Mengembalikan kehormatan dan kekuasaan khilafah Islam yang berdiri tegak diatas kebenara, keadilan, kebersamaan, serta memancarkan cahaya kemakmuran dan kedamaian kepada sekalian manusia.
  6. Menyebarkan da’wah Islam ke seluruh alam, memperluas da’wah ke setiap penjuru dunia, menundukkan setiap penguasa tirani, sehingga tidak ada lagi fitnah di muka bumi dan agama ini semua semuanya milik Alloh. Saat itulah kaum muslimin bergembira dengan pertolongan Alloh. Alloh menolong siapa saja yang dikehendaki, dan Dia Maha Mulia lagi Maha Penyayang.

Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim. (2:193)

Itulah tahapan-tahapan yang harus direalisasikan para pemuda dalam kehidupannya. Orang-orang yang picik dan pengecut akan berkata : “Itu adalah khayalan dan mimpi kosong di siang bolong”. Sungguh, perkataan tersebut adalah sebuah kekerdilan dimana Islam tidak pernah mengakuinya. Itulah kelemahan yang ditanamkan ke dalam hati ummat Islam oleh musuh-musuh Islam. Kelemahan adalah perusak iman seseorang dan menjadi sebab runtuhnya kaum muslimin. Kita katakan terus terang kepada seluruh ummat Islam yang tidak percaya kepada sistem Islam dan tidak berusaha mewujudkannya, silahkan cari idielogi lain ! Dan pasti yang ditemukan hanyalah kerugian dan kekecewaan.

Wahai pemuda Islam !

Kalian tidak lebih lemah daripada orang-oran sebelum kamu, yang pernah diberi kemenangan oleh Alloh. Maka janganlah takut dan janganlah berlemah diri, peganglah erat-erat firman Alloh ini :

(Yaitu) orang-orang (yang menta`ati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka”, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.” (3:173)

Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman. (3:139)

Kita menempa diri untuk menjadi seorang muslim sejati, membina rumah tangga – rumah tangga kaum muslimin menuju terbangunnya rumah tangga yang islami. Setelah itu kita akan menempa bangsa kita menjadi bangsa muslim yang tertegak di dalamnya kehidupan masyarakat yang islami. Kita akan mencapai sasaran yang telah digariskan oleh Alloh, bukan yang kita paksakan untuk diri kita. Kita akan mencapai tujuan dengan izin dan pertolongan Alloh SWT. Alloh tidak menghendaki kecuali menyempurnakan cahaya-Nya, meski orang-orang kafir tidak menyukainya. Untuk itu, pemuda Islam harus siap tampil dengan iman yang kuat, berusaha tak kenal lelah, mempererat hubungan dengan Alloh dan merindukan pertemuan dengan Alloh dalam keadaan syahid di jalan-Nya.

Jadikanlah semua itu sebagai kerangka politik internal dan eksternal kita, yang semuanya berdasarkan kepada Islam. Dan ummat Islam harus yakin pemisahan antara agama dan politik bukanlah ajaran Islam. Kaum muslimin yang menghayati dengan benar ajaran Islam tidak mengenal pemisahan itu. Jauhi orang-orang yang bermaksud memisahkan diri kita dari sistem Islam, karena sikap mereka itu menunjukkan permusuhan terhadap Islam atau sekurang-kurangnya jahil tentang Islam.

Wahai pemuda Islam !

Kesalahan besar bila kita menjadi orang yang mengurung diri dengan ibadat-ibadat khusus saja, menjadi orang yang hidupnya diisi dengan sholat, shiyam, dzikir dan tasbih saja. Kaum muslimin pada periode awal, para salafush-shaleh, tidak mengenal Islam seperti itu. Mereka meyakini Islam sebagai aqidah dan syari’ah, negara dan kewarganegaraan, moral dan material, budaya dan undang-undang. Mereka yakin, Islam adalah sistem yang lengkap, meliputi segala aspek kehidupan, mengatur urusan  dunia sebagaimana mengatur urusan akhirat. Mereka yakin bahwa Islam adalah sitem yang amali dan rohani (operasional sekaligus spiritual). Islam adalah agama dan negara, mushaf dan pedang. Dengan pemahaman seperti itu mereka tidak melupakan perkara ibadah dan tidak melalaikan kewajiban-kewajiban terhadap Rabb-nya. Mereka berusaha ihsan dalam sholat, tilawah Qur’an, dan berdzikir kepada Alloh SWT sebagaimana diajarkan kepada mereka tanpa ditambah atau dikurangi, tidak dibuat-buat dan tidak pula dipersulit-sulit. Mereka adalah orang yang paling mengerti sabda Rasululloh :

“ Sesungguhnya agama ini kokoh, maka masuklah ke dalamnya dengan lemah lembut”

Mereka tetap bisa mengambil bagian dari dunia, dengan tidak mempengaruhi pencapaian keberhasilan akhirat. Mereka memahami firman Alloh :

Katakanlah: “Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezki yang baik?” Katakanlah: “Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat. Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui.(7:32)

Kita berusaha membentuk diri seperti para sahabat-sahabat  yang memiliki perilaku : “ Bagaikan pendeta di malam hari, dan seperti penunggang kuda di siang hari”. Dan Alloh-lah tempat meminta pertolongan.

Adalah sangat keliru orang yang menyangka kita adalah orang yang apatis terhadap masalah kenegaraan, atau bahkan menunduh kita sebagai orang-orang yang akan mengacaukan dan menghancurkan negara sebab kaum muslimin adalah orang yang paling ikhlas dan paling banyak berkorban dalam membela, mempertahankan dan membangun negara.  Jauh dengan apa yang telah diperbuat oleh orang-orang yang menyebut-nyebut dirinya kaum Nasionalis yang tidak pernah merasakan adanya kewajiban membela negara kecuali sekedar taklid kepada pendahulu atau ambisi ingin memperoleh popularitas, atau ingin mengejar prestise atau kepentingan tertentu yang lainnya. Mereka berbuat bukan karena kewajiban yang telah ditetapkan oleh Alloh atas hamba-hambanya.

Salah besar bila ada yang menyangka kita da’i  yang menyeru manusia kepada kemalasan dan keterlenaan, sebab kita selalu menyerukan agar setiap muslim senantiasa menjadi pelopor dalam setiap kebajikan, berlomba-lomba dalam menuntut ilmu, memelihara kesehatan, mencari harta yang halal, dan segala kegiatan serta amal perbuatan yang baik. Kita tidak rela hidup tanpa qiyadah (pemimpin), tanpa amal, dan tanpa keunggulan, karena “keterbelakangan”  bertentangan dengan fikrah kita, bertentangan dengan ajaran Islam.

Dan sangat keliru pula orang yang berpendapat bahwa, kta adalah penyeru rasialis, yang membeda-bedakan status sosial diantara anggota masyarakat, karena Islam sangat menekankan untuk menghormati kesatuan kemanusiaan secara umum.

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (49:13)

Islam datang untuk mewujudkan rahmatan lil ‘alamin. Islam mengharamkan permusuhan, sampai-sampai dalam keadaan marah dan benci sekalipun.

Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (5:8)

Juga Islam memerintahkan untuk berbuat baik antara sesama warga negara, meskipun berbeda agama.

Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. (60:8)

Wahai Pemuda Islam !

Atas dasar-dasar yang teguh dan ajaran yang mulia itu, Islam menyeru kepada kalian : jika kalian yakin dengan fikrah ini, maka ikutilah langkahnya. Berjalanlah bersama-sama diatas titian Islam yang lurus. Lepaskan semua fikrah yang lain dan serahkan semua amal usahamu untuk menegakkan aqidah Islam. Hal itu lebih baik bagi kalian di dunia dan di akhirat.

Akan tetapi jika kalian enggan dan senantiasa terombang-ambing dalam keraguan, di tengah berbagai ajakan yang membingungkan dari semua sistem hidup yang sesat, maka pasukan Alloh akan berjalan terus tanpa peduli sedikit banyak jumlah mereka.

“ Dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (8:10).

Sumber: Imam Syahid Hasan Al-Bana_Risalah Pergerakan dan Politik

INTELEKTUAL PROFETIK KAMMI

Pemuda Intelektual Profetik

Pemuda Intelektual Profetik

Makna intelektual profetik adalah kaum intelektual yang memiliki misi kenabian. Ilmu yang diperolehnya ditransformasikan dalam realitas sosial denga spirit Ilahiyah. Dalam konteks ini, terjadi kolaborasi dunia “langit” dan dunia “bumi.” Langit adalah simbol spiritual, sedangkan bumi simbol keduniaan, kefanaan.

Perjalanan sejarah KAMMI menuntut harakah thulabiyah ini memodifikasi arah geraknya dan memberi titik tekan pada gerakan intelektual-tentunya dengan konsepsi yang jelas dan baku. Dalam Garis-garis Besar Haluan Organisasi [GBHO] KAMMI yang dirumuskan pada Muktamar IV Samarinda, dicantumkan:

  1. Gerakan Intelektual Profetik adalah gerakan yang meletakkan keimanan sebagai ruh atas penjelajahan nalar akal
  2. Gerakan Intelektual Profetik merupakan gerakan yang mengembalikan secara tulus dialetika wacana pada prinsip-prinsip kemanusiaan yang universal
  3. Gerakan Intelektual Profetik adalah gerakan yang mempertemukan nalar akal dan nalar wahyu pada usaha perjuangan, perlawanan, pembebasanm pencerahan, dan pemberdayaan manusia secara organik. [GBHO KAMMI Bab VI Pasal 7 Ayat 2]

Iman sebagai landasan gerak dan pengendali jelajah akal. Dan humanisme universal adalah prinsip yang wajib dipegang. Di sini kita tidak sedang membayangkan intelektual sebagaimana penggerak Jaringan Islam Liberal yang sempat menuai vonis mati para ulama, kita juga tidak sedang membayangkan kaum Mu’tazilah yang dalam sejarah memberlakukan al-mihna (siksaan fisik) kepada Imam Ahmad dan ulama ahlus sunnah lain.

Intelektual profetik adalah proses membangun kesadaran, membentuk paradigma dan menggerakkan secara massif dan organik. Intelektual profetik lahir bukan hanya untuk berwacana atau menenggelamkan diri dalam lautan buku dan diskusi belaka, namun untuk membentuk pejuang Islam yang cerdas, berpihak pada rakyatnya dan berjuang dalam konteks kekinian. Mengandalkan jaringan, kekuatan internal, berenang dalam kolam demokrasi dan memenangkan pertempuran.

Sumber:

IJTIHAD Membangun Basis Gerakan_Amin Sudarsono [Ketua Departemen Kastrat PP-KAMMI]

ARAB PRA ISLAM [PART I]

Sumber Pertama Peradaban Ummat Manusia

Mesir sebagai Peradaban tertua

PENELITIAN mengenai sejarah peradaban ummat manusia dan dari mana pula asal usulnya, sebenarnya masih ada hubungannya dengan zaman kita sekarang. Penelitian demikian sudah lama menetapkan, bahwa sumber peradaban itu sejak lebih dari 6000 tahun yang lalu adalah Mesir. Zaman sebelum itu dimasukkan kedalam kategori pra-sejarah. Oleh karena itu sukar sekali akan sampai kepada suatu penemuan yang ilmia. Sarjana-sarjana ahli purbakala (arkeologi) kini kembali mengadakan penggalian-penggalian di Irak dan Suriah dengan maksud mempelajari soal-soal peradaban Mesopotamia Raya dan Funisia serta menentukan zaman permulaan kedua macam peradaban itu: adakah ia mendahului peradaban Mesir masa Firaun dan sekaligus mempengaruhinya, ataukah ia menyusul masa itu dan terpengaruh karenanya?

Apapun yang diperoleh oleh sarjana-sarjana Arkeologi dalam bidang sejarah itu, sama sekali tidak akan merubah sesuatu dari kenyataan yang sebenarnya, yang dalam penggalian benda-benda kuno Tiongkok dan Timur Jauh belum memperlihatkan hasil yang berlawanan. Kenyataan ini ialah bahwa sumber peradaban pertama_baik di Mesir, Funisia, atau Mesopotamia Raya_ada hubungannya dengan Laut Tengah; dan bahwa Mesir adalah pusat yang paling menonjol membawa peradaban pertama itu ke Yunani atau Roma, dan bahwa peradaban dunia sekarang, masa hidup kita sekarang masih erat sekali hubungannya dengan peradaban pertama itu.

Apa yang pernah diperlihatkan oleh Timur Jauh dalam penelitian tentang sejarah peradaban, tidak pernah memberi pengaruh yang jelas terhadap pengembangan peradaban Firaun, Mesopotamia, atau Yunani, juga tidak pernah mengubah tujuan dan perkembangan peradaban tersebut. Hal ini baru terjadi sesudah ada akulturasi dan salin_hubungan dengan peradaban Islam. Di sinilah proses saling pengaruh_mempengaruhi itu terjadi, proses asimilasi yang sedemikian rupa, sehingga pengaruhnya terdapat pada peradaban dunia yang menjadi pegangan umat manusia dewasa ini.

Laut Tengah dan Laut Merah

Laut Merah

Peradaban-peradaban itu sudah begitu berkembang dan tersebar ke pantai-pantai Laut Tengah atau disekitarnya, di Mesir, di Mesopotamia Raya, dan Yunani sejak ribuan tahun yang silam, yang sampai saat ini perkembangannya tetap dikagumi dunia: Perkembangan dalam sains dan teknologi dalam pertanian, perdagangan, peperangan dan dalam segala kegiatan manusia. Tetapi, semua peradaban itu, sumber dan pertumbuhannya selalu berasal dari agama. Memang benar, sumber itu berbeda-beda antara kepercayaan trinitas Mesir Purba yang tergambar dalam Osiris, Isis, dan Horus, yang memperlihatkan kesatuan dan penjelmaan hidup kembali di negerinya serta hubungan kekalnya hidup dari bapa kepada anak, dan antara panganisme Yunani dalam melukiskan kebenaran, kebaikan, dan keinadahan yang bersumber dan tumbuh dari gejala-gejala alam berdasarkan pancaindra. Sesudah itu timbul perbedaan-perbedaan yang dengan pengambaran semacam itu dipelbagai zaman kemunduran telah mengantarkannya kedalam kehidupan duniawi. Tetapi sumber semua peradaban itu tetap membentuk perjalanan sejarah dunia, yang begitu kuat pengaruhnya sampai saat kita sekarang. Sekalipun peradaban demikian hendak mencoba melepaskan diri melawan sumbernya sendiri dari zaman ke zaman. Siapa tau hal yang serupa kelak akan hidup kembali.

Dalam lingkungan masyarakat ini, yang menyandarkan peradabannya sejak ribuan tahun silam kepada sumber agama, dalam lingkungan itu pula dilahirkan para Rasul yang membawa agama-agama yang kita kenal sampai saat ini. Di Mesir lahir musa, dan dalam pangkuan Firaun ia dibesarkan dan diasuh, dan ditangan para pendeta dan pemuka-pemuka agama agama kerajaan itu ia mengetahui  keesaan Tuhan dan rahasia-rahasia alam. Setelah datang izin Allah kepadanya supaya ia membimbing umat ditengah-tengah Firaun yang berkata kepada rakyatnya: ‘Akulah Tuhanmu yang Tertinggi,’ (QS. 79:24) ia pun berhadapan dengan Firaun sendiri dan tukang-tukang sihirnya, sehingga akhirnya terpaksa ia bersama-sama dengan orang-orang Israil yang lain pindah ke Palestina. Dan di Palestian ini pula dilahirkan Isa, Roh dan Firman Allah yang ditiupkan kedalam diri Maryam. Setelah Allah menarik kembali Isa putra Maryam, murid-muridnya kemudian menyebarkan Agama Nasrani yang diajarkan Isa itu. Mereka dan pengikut-pengikutnya mengalami bermacam-macam penganiayaan. Kemudian setelah dengan kehendak Allah agama ini tersebar, datanglah Maharaja Roma yang menguasai dunia ketika itu, membawa panji agama Nasrani. Seluruh kerajaan Roma kini telah menganut agama Isa. Tersebarlah agama ini di Mesir, di Syam dan Yunani, dan dari Mesir menyebar pula ke Abisinia (Ethiopia). Sesudah itu selama beberapa abad kemudian kekuasan agama ini semakin kuat juga. Semua yang berada di bawah panji kerajaan Romawi dan yang ingin mengadakan persahabatan dan hubungan baik dengan kerajaan ini, berada di bawah panji agama Masehi itu.

Agama Kristen dan Agama Majusi (Romawi dan Persia)

Berhadapan dengan Agama Masehi yang tersebar dibawah panji dan pengaruh Roma itu berdiri pula kekuasaan Agama Majusi (Zoroaster) di Persia yang mendapat dukungan moral di Timur Jauh dan di India. Selama beberapa abad itu Mesopotamia Raya dan Mesir yang membentang  sepanjang Funisia, telah merintangi terjadinya pertarungan langsung antara kepercayaan dan peradaban barat dengan Timur. Tetapi dengan masuknya Mesir dan Funisia kedalam lingkungan agama Masehi telah pula menghilangkan rintangan itu. Paham Masehi di Barat dan paham Majusi di Timur sekarang sudah berhadapan muka. Selama beberapa abad berturut-turut, baik Barat maupun Timur, dengan hendak menghormati agamanya masing-masing, yang sedianya berhadapan dengan rintangan alam, kini telah berhadapan dengan rintangan moral, masing-masing merasa perlu dengan sekuat tenaga berusaha mempertahankan kepercayaannya, dan satu sama lain tidak mempengaruhi kepercayaan atau peradabannya, sekalipun peperangan antara mereka berlangsung terus-menerus sampai sekian lama.

Tetapi, sekalipun Persia telah dapat mengalahkan kekuasaan Roma dengan menguasai Syam dan Mesir dan sudah sampai pula di ambang pintu Bizantium (Romawi), namun tak terpikir oleh raja-raja Persia akan menyebarkan agama Majusi atau menggantikan tempat agama Nasrani. Bahkan pihak yang kini berkuasa itu malahan menghormati kepercayaan orang yang dikuasainya. Rumah-rumah ibadah mereka yang sudah hancur akibat perang dibantu pula membangun kembali dan dibiarkan mereka bebas menjalankan upacara-upacara keagamaannya. Satu-satunya yang diperbuat pihak Persia dalam hal ini hanyalah mengambil Salib Besar dan kemudian di bawa kenegerinya. Bila mana kelak kemenangan itu berganti berada di pihak Romawi, salib itu pun diambilnya kembali dari tangan Persia.

Dengan demikian peperangan Rohani di Barat itu tetap di Barat dan yang Timur tetap di Timur. Dengan demikian pula rintangan moral tadi sama pula dengan rintangan alam dan kedua kekuatan itu dari segi rohani tidak saling berbenturan.

Bizantium Ahli Waris Roma

Peta Kekuasaan Romawi

Peta Kekuasaan Romawi

Keadaan serupa itu berlangsung terus sampai abad keenam. Saat itu pertentangan antara Roma dan Bizantium (Romawi) makin meruncing. Pihak Roma yang benderanya berkibar di benua Eropa sampai ke Gaul dan Kelt di Inggris selama beberapa generasi dan selama zaman Julius Caesar yang dibanggakan dunia dan tetap dibanggakan, kemegahannya itu berangsur-angsur mulai surut. Sampai akhirnya Bizantium memisahkan diri dengan kekuasaan sendiri pula, sebagai ahli waris kerajaan Roma yang menguasai dunia itu. Puncak keruntuhan kerajaan Roma ialah tatkala pasukan Vandal yang buas itu datang menyerbunya dan mengambil kekuasaan pemerintahan ditangannya. Pertistiwa ini telah menumbulkan bekas yang dalam pada agama Masehi yang tumbuh dalam pangkuan kerajaan Roma. Mereka yang beriman kepada Isa mengalami pengorbanan-pengorbanan besar, berada dalam keadaan ketakutan dibawah kekuasaan Vandal itu.

Sekte-sekte Kristen dan Pertentangannya

Sekte-sekte agama Masehi ini mulai terpecah belah. Dari zaman ke zaman sekte-sekte itu telah terbagi-bagi ke dalam sekte-sekte dan golongan-golongan. Setiap golongan mempunyai pandangan dan dasar-dasar agama sendiri yang bertentangan dengan golongan satu sama lain karena perbedaan pandangan itu telah mengakibatkan adanya permusuhan pribadi yang terbawa oleh moral dan jiwa yang sudah lemah, sehingga cepat sekali ia berada dalam ketakutan, mudah terlibat dalam fanatisme buta dan dalam kebekuan. Pada masa-masa itu, di antara golongan-golongan Masehi itu ada yang mengingkari bahwa Isa mempunyai jasad disamping bayangan yang tampak pada manusia; ada pula yang mempertautkan secara rohaniah antara jasad dan rohnya sedemikian rupa sehingga memerlukan khayal dan fikiran yang begitu rumit untuk dapat menggambarkannya; dan disamping itu ada pula yang mau menyembah Maryam, sementara yang lain menolak pendapat bahwa ia tetap perawan sesudah melahirkan Almasih.

Terjadinya pertentangan antar sesama pengikut-pengikut Isa itu peristiwa yang biasa terjadi pada setiap ummat dan zaman, apabila ia sedang mengalami kemunduran. Soalnya hanya sebatas teori dan kata-kata dan bilangan saja, dan pada tiap kata dan tiap bilangan itu ditafsirkan pula dengan bermacam-macam arti, ditambah dengan rahasia-rahasia, ditambah dengan  warna-warni khayal yang sukar diterima akal dan hanya dapat dikunyah dengan perdebatan-perdebatan sofistik yang kaku saja.

Seorang pendeta gereja berkata: “Seluruh penjuru kota itu dilanda perdebatan. Orang dapat melihatnya dipasar-pasar, ditempat-tempat penjual pakaian, penukaran uang, pedagang makanan. Jika ada orang yang bermaksud hendak menukar sekeping uang emas, ia akan terlibat dalam suatu perdebatan tentang apa yang ciptaan dan apa yang bukan ciptaan. Kalau ada orang yang hendak menawar roti, maka akan dijawabnya: Bapa lebih besar dari putra dan putra tuduk kepada Bapa. Bila ada orang yang bertanya tentang kolam mandi, adakah airnya hangat, maka pelayannya akan segera menjawab: “Putra telah diciptakan dari yang tak ada.”

Tetapi kemunduran yang telah menimpa agama Masehi sehingga ia terpecah belah kedalam golongan-golongan dan sekte-sekte itu  dari segi politik tidak begitu besar pengaruhnya terhadap kerajaan Roma. Kerajaan itu tetap kuat dan kukuh. Golongan-golongan itupun tetap hidup di bawah naungannya dengan tetap adanya semacam pertentangan tetapi tidak sampai orang melibatkan diri kedalam polemik teologis atau sampai memasuki forum-forum diskusi resmi. Keputusan yang pernah diambil oleh satu golongan tidak sampai mengikat golongan lain. Kerajaan pun melindungi semua golongan itu dengan memberi kebebasan kepada mereka mengadakan polemic, yang sebenarnya telah menambah kuatnya kekuasaan kerajaan dalam bidang administrasi tanpa mengurangi penghormatannya kepada agama. Setiap golongan bergantung pada belas kasihan penguasa, bahwa ada dugaan bahwa golongan itu menggantungkan diri kepada pangkuan pihak yang berkuasa.

Sikap saling menyesuaikan diri dibawah naungan Imperium Roma itulah yang menyebabkan penyebaran agama Masehi tetap berjalan dan dapat diteruskan dari Mesir dibawah Roma sampai ke Abisinia (Ethiopia) yang merdeka dan masih dalam lingkungan persahabatan dengan Roma. Dengan demikian ia mmpunyai kedudukan yang sama kuat disepanjang Laut Merah seperti di sekitar Laut Tengah itu. Dari wilayah Syam ia menyeberang ke Palestina. Penduduk Palestina dan penduduk Arab kabilah Gassan yang pindah kesana telah pula menganut agama itu. Sampai ke pantai Furat (Euphrates), penduduk Hira, Lakhm dan Munzir yang berpindah dari pedalaman sahara yang tandus ke daerah-daerah yang subur, juga demikian. Selanjutnya mereka tinggal di daerah itu beberapa lama untuk kemudian hidup dibawah kekuasaan Persia Majusi. [To Be Continued]

Sumber : Sejarah Hidup Muhammad_Oleh Dr. Muhammad Husain Haekal

TERLAHIR UNTUK MEMBEBASKAN


Terlahir sebagai Pahlawan yang membebaskan

Terlahir sebagai Pahlawan yang membebaskan

Menurut Edward Said, untuk mengukur apakah seseorang itu masuk kategori intelktual atau bukan, dengan mudah dapat dilihat pada peran dan kesadarannya untuk menyamapikan sebuah kebenaran (A Fuad Fanani, 2003). Tujuan Intelektualis menurut Edward Said adalah meningkatkan kebebasan dan pengetahuan manusia. Seorang Intelektual hendaknya tidak menerima sebuah kebenaran sebagai sebuah kepastian yang tidak bisa dikritisi dan ditafsir ulang.

Dalam terminology ini, Intelektual bukanlah kelas sosial tersendiri tetapi memiliki keterkaitan sosial dimana kegiatan yang diberi kategori intelektual mendapat tempat dalam hubungan sosial. Kaum Intelektual tidak ditempatkan sebagai kelas tersendiri, tetapi berlaku bagi siapa saja yang melakukan perjuangan menegakkan kebenaran guna mewujudkan keadilan, kebebasan, dan demokrasi.

Pandangan yang lebih radikal dikemukakan oleh Ali Syariati bahwa seorang cendikiawan harus melakukan kerja protes terhadap segala macam bentuk penyimpangan yang ada dalam masyarakat (Syariati, 1982). Intelektual sejati adalah mereka yang berani melakukan kerja protes atas kecenderungan destruktif di dalam masyarakat, tidak sekedar berdiam diri diatas menara gading atau memosisikan diri sebagai resi. Tugas kaum intelektual tak semata menganyam kata, menelurkan gagasan, tetapi juga harus berupaya mengubah realitas yang timpang, mengubah kata-kata menjadi kenyataan.

Kembali dalam kontek intelektual muslim, Muslim Abdurrahman (2003) dalam Islam sebagai Kritik Sosial, menyebutkan istilah ulama organik. Penjabaran Kuntowijoyo (1994) yang menyatakan, intelektual muslim harus menjalani misi profetik (Kenabian) seorang Muhammad Saw, yang walaupun telah mi’raj, beliau masih mau turun ke bumi, memikirkan umatnya. Dalam pengertian lain, meski telah mendapat pencapaian derajat kemanusiaan dalam bentuk karunia mengahdap “wajah” Allah, seorang Muhammad Saw, masih memikirkan kebobrokan umatnya dan turun kebumi melakukan revolusi dalam realita kemanusiaan.

Sehingga seorang intelektual meski telah mencapai derajat ulil albab yang seakan “tahu banyak hal”, tetap bertanggung jawab merealisasikan konsep-konsep yang dia tahu dalam realita kemanusiaan. Disinilah kemudian timbul persoalan, bagai mana bentuk pemihakan yang harus dilakukan seorang intelektual atau lebih khusus (dan lebih pasti) oleh seorang ulil albab? Jawabannya, ada dalam QS. An-Nisa: 75,

“Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa: “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri Ini (Mekah) yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau!”.

Kuntowijoyo (1996) menyatakan, bersama penegakan tauhid harus ada pemihakan terhadap dua golongan, yaitu mustadl’afin dan dlu’afa wal masakin. Dalam konsepsi tersebut mustadl’afin adalah orang yang lemah atau orang yang tertindas (teraniaya) dari sisi sosial-politik (Struktural). Sedangkan konsep dlu’afa wal masakin adalah konsep orang lemah yang tertindas dari sisi ekonomi.

Kunto membedakan antara konsep “pemihakan Islami” dengan “pemihakan Marxis.” Seseorang yang tertindas dalam konsep Islam bukanlah harus orang yang miskin, namun orang kaya bisa menjadi orang yang teraniaya bila hartanya di rampok, misalnya. Disinilah Islam tidak mengajarkan model Robin Hood untuk melakukan pemerataan.

Dalam titik ini, konsep pemihakan Islami akan  diametral dengan pemihakan terhadap kaum proletar dalam tradisi Marxisme. Kaum Marxis memandang gejala sosial secara generalis. Miskin adalah proletar, kaya adalah borjuis. Maka perombakan system secara radikal_dengan revolusi dan tumbal darah rakyat_adalah sebuah kemestian perjuangan.

Sumber:

IJTIHAD Membangun Basis Gerakan_Amin Sudarsono [Ketua Departemen Kastrat PP-KAMMI]