IDEOLOGI SEBAGAI ALAT

Ibarat Mesin; Ideologi adalah alat bagi GERAKAN

Ibarat Mesin; Ideologi_Alat bagi GERAKAN

Apa yang disebut ideologi?  Franz Suseno (1991) menjelaskan ideologi sebagai keseluruhan system berfikir, nilai-nilai dan sikap dasar rohaniah sebuah gerakan, kelompok sosial atau individu. Ideologi dapat dimengerti sebagai suatu sistem penjelasan tentang eksistensi suatu kelompok sosial, sejarahnya dan proyeksinya ke masa depan serta merasionalisasikan suatu bentuk hubungan kekuasaan.

Dengan demikian, ideologi memiliki fungsi mempolakan, mengkonsolidasi dan menciptakan arti dalam tindakan masyarakat. Ideologi yang dianutlah yang pada akhirnya akan sangat menentukan bagaimana seseorang atau sekelompok orang memandang sebuah persoalan dan harus berbuat apa untuk mensikapi persoalan tersebut. Ideologi menjadi kaca mata hidup.

Sementara Ian Adam (2004) menjabarkan bahwa yang dimaksud sebagai ideologi adalah doktrin yang membimbing tindakan politik, identitas-identitas yang mesti diyakini sebagai “iman” politik, tujuan yang wajib dicapai, alasan yang harus diperjuangkan, dan visi tentang masyarakat terbaik yang niscaya diwujudkan.

Di sisi lain Muhammad Ismail (1998) menyatakan bahwa Ideologi (mabda’) merupakan ‘aqidah ‘aqliyyah yanbatsiqu ‘anha an nizham, yang berarti: seperangkat kaidah berfikir yang melahirkan aturan-aturan dalam kehidupan (nizham). Menurut definisi ini, tampak bahwa sesuatu disebut ideologi bila memiliki dua syarat, yaitu memiliki ‘aqidah ‘aqliyyah sebagai fikrah (ide) dan memiliki sistem (aturan) sebagai thariqah (metode penerapan).

Dalam ilmu-ilmu sosial, dikenal dua pengertian mengenai ideologi, yaitu pengertian secara fungsional dan struktural.

  1. Ideologi secara Fungsional diartikan sebagai perangkat gagasan tentang kebaikan bersama; atau tentang masyarakat dan Negara yang dianggap paling baik.
  2. Ideologi secara structural diartikan sebagai sistem pembenaran, seperti gagasan dan formula politik atas setiap kebijakan dan tindakan yang diambil oleh penguasa. Menurut pendekatan struktural konflik, kelas yang memiliki sarana produksi materiil dengan sendirinya memiliki sarana  produksi mental seperti gagasan, budaya, dan hukum. Gagasan kelas yang berkuasa di mana pun dan kapan pun merupakan hal yang dominan. Gagasan budaya dan hukum, sadar atau tidak merupakan pembenaran atas kepentingan materiil pihak yang memiliki gagasan yang dominan. Sistem pembenaran ini disebut ideologi.

Dalam arti fungsional, ideologi secara tipologi digolongkan menjadi dua tipe yaitu Doktriner dan Pragmatis:

  1. Doktriner: Suatu ideologi dapat digolongkan doktriner apabila ajaran-ajaran yang terkandung dalam ideologi itu dirumuskan secara sistematis dan terinci dengan jelas, didoktrinasikan kepada warga masyarakat, dan pelaksanaannya diawasi secara ketat oleh aparat pemerintah atau partai. Komunisme merupakan salah satu contohnya.
  2. Pragmatis: suatu ideologi dapat digolongkan pragmatis ketika ajaran-ajaran yang terkandung di dalamnya tidak dirumuskan secara sistematis dan terinci, melainkan dirumuskan secara umum (prinsip-prinsipnya saja). Dalam hal ini, ideologi itu tidak didoktrinasikan, tetapi disosialisasikan secara fungsional melalui kehidupan keluraga, sisetem pendidikan, system ekonomi, kehidupan beragama, dan sistem politik. Individualisme (liberalisme) merupakan salah satu contoh ideologi pragmatis.

Suatu ideologi untuk dapat terus bertahan di tengah tuntutan aspirasi masyarakat dan perkembangan modernitas dunia, setidaknya harus memilki tiga dimensi: realita, idealisme, dan fleksibilitas. Ditinjau dari dimensi:

  1. Realitas, ideologi itu megandung makna bahwa nilai-nilai dasar yang terkandung didalamnya bersumber dari nilai-nilai yang rill hidup didalam masyarakat, terutama waktu ideologi tersebut lahir, sehingga mereka betul-betul merasakan dan menghayati bahwa nilai-nilai dasar itu adalah milik mereka bersama.
  2. Idealisme, suatu ideologi perlu mengandung cita-cita yang ingin dicapai dalam berbagai bidang kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
  3. Fleksibilitas, artinya perlu ada perkembangan dari ideologi itu untuk mengikuti perkembangan pemikiran baru tanpa kehilangan nilai dasar atau hakikat dari ideologi tersebut. Dimensi fleksibilitas ini hanya mungkin dimiliki secara wajar dan sehat oleh suatu ideologi yang terbuka dan demokratis.

Sampai disini, apakah Pancasila_ideologi Negara kita_sudah memenuhinya?

Sumber:

IJTIHAD Membangun Basis Gerakan_Amin Sudarsono [Ketua Departemen Kastrat PP-KAMMI]

 

One response to this post.

  1. Posted by suhana on 13 Desember 2010 at 12:27 pm

    tulisan yang sangat memotifasi………………..!!!!!!!!!!!!!

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: