MENJADI INTELEKTUAL PROFETIK

Otak sumber Kecerdasan Manusia

Otak sumber Kecerdasan Manusia

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menjelaskan, kata ‘intelektual’ berkaitan dengan kata ‘intelek’. Intelek berarti “istilah psikologi tentang daya atau proses pikiran yang lebih tinggi yang berkenaan dengan pengetahuan; daya akal budi; kecerdasan berfikir. Kata intelek juga berkonotasi untuk menyebut kaum terpelajar atau kaum cendikiawan.” Sedangkan kata intelektual berarti suatu sifat cerdas, berakal, dan berfikiran jernih berdasarkan Ilmu pengetahuan. Kata intelektual juga berkonotasi sebagai kaum yang memiliki kecerdasan tinggi atau juga disebut kaum cendekiawan.

Intelektual berasal dari kosa kata Latin: intellectus yang berarti pemahaman, pengertian, kecerdasan. Dalam pengertian sehari-hari kemudian berarti kecerdasan, kepandaian, atau akal. Pengertian intelek ini berbeda dengan pengertian taraf kecerdasan atau intelegensi. Intelek lebih menunjukkan pada apa yang dapat dilakukan manusia dengan intelegensinya; hal yang tergantung pada latihan dan pengalaman.

Dari pengertian Istilah. Intelektualisme adalah sebuah doktrin filsafat yang menitik beratkan pengenalan (kognisi) melalui akal serta secara metafisik memisahkannya dari pengetahuan indra serapan. Intelektualisme berkerabat dengan rasionalisme. Dalam filsafat yunani purba, penganut intelektualisme menyangkal pengetahuan indra serta mengenggap pengetahuan intelektual sebagai kebenaran yang sungguh-sungguh.

Di dalam filsafat modern, intelektualisme menantang keberatsebelahan sensasionalisme yang hanya mengandalkan indra, antara lain didukung oleh Rene Descartes (1596-1650), kaum Cartesian, serta sampai batas tertentu oleh Spinizisme. Pada masa kini_bercampur dan tambah dengan aliran agnitisme_intelektualisme dibela positivisme logical (Hassan Shadily, 1980)

Bagai mana konsep intelektual menurut Islam? Dari konsep intelektual Islam, terlebih dahulu perlu dikaji konsep ulil albab. Istilah ulil albab didalam Al-Quran terdapat pada beberapa ayat salah satu ayat tersebut tertera pada surat Ali Imran ayat ke 190-191:

“Sesungguhnya dalam (proses) penciptaan langit dan bumi, dan (proses) silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang berakal[menggunakan intektual mereka], (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah (berlatih diri dalam mencapai tingkat kesadaran akan kekuasaan Allah) sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang (proses) penciptaan langit dan bumi (sehingga mereka menyatakan): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan Ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, Maka peliharalah kami dari siksa neraka.”

 

Manusia sejak lahir selalu belajar

Manusia sejak lahir selalu belajar

Mengambil pendapat dari Ahmad Muflih Saefuddin dalam bukunya, Desekulerisasi Pemikiran: Landasan Islamisasi. Di atas, kata intelek digunakan sebagai keterangan kata “berfikir”. Karena pada khasanah intelektual muslim, konsep intelek diterjemahkan sebagai konsep panduan zikir dan fikir, rasional dan intuitif seperti halnya konsep akal aktif pada abad pertengahan, atau isyiq pada konsep Muhammad Iqbal.

Dalam ayat itu, dinyatakan adanya aspek hasil pengamatan realitas (tanda-tanda alam), dan aspek hasil interpretasi intrinsic (proses) sebagai hasil proses fikir dan zikir. Didalam konsep ini, kata ulil albab berarti ada kesinambungan antara kemampuan berfikir, merenung dan membangun teori Ilmiah dari realitas alam yang empiris dengan metode induktif dan deduktifnya namun sekaligus mampu mempertajam analisisnya dengan mengasah hati dan rasa melalui berzikir.

Artinya kerja intelektual bukan hanya kerja berfikir. Harus ada bagian intuisi_selain logika_yang berfungsi sebagai pengawal etik logika. Disinilah peran Agama yang kemudian terkenal dengan ungkapan Albert Einstein bahwa “ilmu tanpa agama buta, agama tanpa ilmu lumpuh” (Keith Ward, 2002)

Dalam perkembangan kaitan antara fikir dan zikir ini Taufik Pasiak (2003) menyatakan, kadang kita salah mengartikan fikir sebagai kerja otak dan zikir sebagai kerja hati. Kenyataannya, setelah muncul perkembangan ilmu kedokteran dalam bidang neurologi, kedua kerja tersebut merupakan kerja otak dalam otak manusia, ada organ yang berfungsi melakukan tugas berlogika (untuk kerja fikir) dan ada organ yang berfungsi untuk intuisi (kerja zikir).

Pasiak juga menyatakan, terjemahan kata qolb adalah menunjuk keotak juga. Perasaan di dada itu, adalah karena aliran darah yang mengalir tidak teratur di jantung, sehingga kadang orang menyebut bahwa qolb (terjemahan kata hati dari kata inggris: heart bukan liver) itu berada di dada. Jadi otak bukanlah hanya karena pikiran karena otak tempat proses berpikir dan mengendalikan perasaan.

Dawam Raharjo (1996) menegaskan, cirri ulil albab ada tiga dimensi:

  1. Dimensi ontologis, seorang ulil albab adalah manusia yang telah menarik jarak dari dan semua yang ada, termasuk dirinya sendiri, masyarakat dan sejarah, serta menjadikannya objek pengamatan yang rasional.
  2. Dimensi fungsional, bertolak dari pengertian bahwa alam semesta diciptakan oleh Allah dengan tujuan dan merupakan suatu yang hak dan  bukannya bathil atau kacau, melainkan berfungsi dalam kehidupan manusia
  3. Dimensi aksiologis, atau etis, yang melihat sesuatu dari segi buruk atau baik, benar atau salah, agar kehidupan manusia dapat berkembang lebih maju sejalan dengan harkat manusia sebagai mahluk yang dimuliakan Allah.

Secara prinsip, ulil albab adalah konsep Islam terhadap apa yang disebut sebagai hukum intelektual. Tentu dengan muatan Ilahiyah.

Sumber:

IJTIHAD Membangun Basis Gerakan_Amin Sudarsono [Ketua Departemen Kastrat PP-KAMMI]

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: