TERLAHIR UNTUK MEMBEBASKAN


Terlahir sebagai Pahlawan yang membebaskan

Terlahir sebagai Pahlawan yang membebaskan

Menurut Edward Said, untuk mengukur apakah seseorang itu masuk kategori intelktual atau bukan, dengan mudah dapat dilihat pada peran dan kesadarannya untuk menyamapikan sebuah kebenaran (A Fuad Fanani, 2003). Tujuan Intelektualis menurut Edward Said adalah meningkatkan kebebasan dan pengetahuan manusia. Seorang Intelektual hendaknya tidak menerima sebuah kebenaran sebagai sebuah kepastian yang tidak bisa dikritisi dan ditafsir ulang.

Dalam terminology ini, Intelektual bukanlah kelas sosial tersendiri tetapi memiliki keterkaitan sosial dimana kegiatan yang diberi kategori intelektual mendapat tempat dalam hubungan sosial. Kaum Intelektual tidak ditempatkan sebagai kelas tersendiri, tetapi berlaku bagi siapa saja yang melakukan perjuangan menegakkan kebenaran guna mewujudkan keadilan, kebebasan, dan demokrasi.

Pandangan yang lebih radikal dikemukakan oleh Ali Syariati bahwa seorang cendikiawan harus melakukan kerja protes terhadap segala macam bentuk penyimpangan yang ada dalam masyarakat (Syariati, 1982). Intelektual sejati adalah mereka yang berani melakukan kerja protes atas kecenderungan destruktif di dalam masyarakat, tidak sekedar berdiam diri diatas menara gading atau memosisikan diri sebagai resi. Tugas kaum intelektual tak semata menganyam kata, menelurkan gagasan, tetapi juga harus berupaya mengubah realitas yang timpang, mengubah kata-kata menjadi kenyataan.

Kembali dalam kontek intelektual muslim, Muslim Abdurrahman (2003) dalam Islam sebagai Kritik Sosial, menyebutkan istilah ulama organik. Penjabaran Kuntowijoyo (1994) yang menyatakan, intelektual muslim harus menjalani misi profetik (Kenabian) seorang Muhammad Saw, yang walaupun telah mi’raj, beliau masih mau turun ke bumi, memikirkan umatnya. Dalam pengertian lain, meski telah mendapat pencapaian derajat kemanusiaan dalam bentuk karunia mengahdap “wajah” Allah, seorang Muhammad Saw, masih memikirkan kebobrokan umatnya dan turun kebumi melakukan revolusi dalam realita kemanusiaan.

Sehingga seorang intelektual meski telah mencapai derajat ulil albab yang seakan “tahu banyak hal”, tetap bertanggung jawab merealisasikan konsep-konsep yang dia tahu dalam realita kemanusiaan. Disinilah kemudian timbul persoalan, bagai mana bentuk pemihakan yang harus dilakukan seorang intelektual atau lebih khusus (dan lebih pasti) oleh seorang ulil albab? Jawabannya, ada dalam QS. An-Nisa: 75,

“Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa: “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri Ini (Mekah) yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau!”.

Kuntowijoyo (1996) menyatakan, bersama penegakan tauhid harus ada pemihakan terhadap dua golongan, yaitu mustadl’afin dan dlu’afa wal masakin. Dalam konsepsi tersebut mustadl’afin adalah orang yang lemah atau orang yang tertindas (teraniaya) dari sisi sosial-politik (Struktural). Sedangkan konsep dlu’afa wal masakin adalah konsep orang lemah yang tertindas dari sisi ekonomi.

Kunto membedakan antara konsep “pemihakan Islami” dengan “pemihakan Marxis.” Seseorang yang tertindas dalam konsep Islam bukanlah harus orang yang miskin, namun orang kaya bisa menjadi orang yang teraniaya bila hartanya di rampok, misalnya. Disinilah Islam tidak mengajarkan model Robin Hood untuk melakukan pemerataan.

Dalam titik ini, konsep pemihakan Islami akan  diametral dengan pemihakan terhadap kaum proletar dalam tradisi Marxisme. Kaum Marxis memandang gejala sosial secara generalis. Miskin adalah proletar, kaya adalah borjuis. Maka perombakan system secara radikal_dengan revolusi dan tumbal darah rakyat_adalah sebuah kemestian perjuangan.

Sumber:

IJTIHAD Membangun Basis Gerakan_Amin Sudarsono [Ketua Departemen Kastrat PP-KAMMI]

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: