ARAB PRA ISLAM [Part II]

Majusi Persia di Semenanjung Arab

teritorial of persia

teritorial of persia

Saat itu kehidupan agama Majusi di Persia juga mengalami kemunduran seperti agama Masehi dalam Imperium Roma. Penyembahan api dalam agama Majusi merupakan gejala yang menonjol tampak dari luar, namun hal berkaitan dengan dewa kebaikan dan kejahatan masing-masing pengikutnya telah berpecah belah menjadi beberapa sekte. Tetapi disini bukan tempatnya kita menguraikan  semua itu. Sungguhpun begitu, kekuasaan politik Persia tetap kuat juga. Polemik keagamaan tentang lukisan dewa serta adanya pemikiran bebas yang tergambar dibalik lukisan itu, tidaklah mempengaruhinya. Golongan-golongan agama yang berbeda-beda semua berlindung di bawah raja Persia. Pertentang itu sengaja dilakukan sebagai suatu cara supaya satu dengan yang lain saling bermusuhan, karena dikhawatirkan, bila salah satunya men;jadi kuat, maka Raja atau salah satu golongan itu akan memikul akibatnya.

Kedua kekuatan yang sekarang sedang berhadap-hadapan itu adalah kekuatan Kristen dan kekuatan Majusi, kekuatan Barat berhadapan dengan kekuatan Timur. Bersamaan dengan itu kekuasaan-kekuasaan kecil yang berada dibawah pengaruh kedua kekuatan itu, pada awal abad keenam berada disekitar semenanjung Arab. Kedua kekuatan itu masing-masing punya hasrat mengadakan  ekspansi dan menjajah. Pemuka-pemuka kedua agama itu masing-masing berusaha sekuat tenaga akan menyebarkan agamanya keatas kepercayaan agama lain yang sudah dianutnya. Sungguhpun begitu, semenanjung Arab itu tetap seperti sebuah oasis yang kekar tak terjamah oleh peperangan, kecuali pada beberapa tempat di bagian pinggir saja, juga tak sampai terjamah oleh penyebaran agama-agama Masehi atau Majusi, kecuali sebagin keccil pada beberapa kabilah. Gejala demikian ini dalam sejarah kadang tampak aneh kalau kita tidak lihat letak dan iklim Semenanjung Arab itu serta pengaruh keduanya terhadap kehidupan penduduknya, dalam aneka macam perbedaan dan persamaan serta kecenderungan hidup mereka masing-masing.

Antara Dua Kekuatan

Semenanjung atau Jazirah Arab bentuknya memanjang dan tidak segi empat genjang (parallelogram). Ke sebelah utara Palestina dan padang Syam, kesebelah timur Hira, Dijlah (Tigris), Furat, dan Teluk Persia, kesebelah selatan samudera Hindia dan Teluk aden sedang kesebelah barat Laut Merah. Jadi, dari sebelah barat dan selatan daerah ini dilingkungi lautan, sedangkan dari utara dan timur dilingkungi padang sahara dan Teluk Persia. Tetapi bukan rintangan itu saja yang melindunginya dari serangan penyerbuan penjajah dan penyebaran Agama, melainkan juga karena jaraknya yang berjauhan. Panjang semenanjung Arab itu melebihi seribu kilometer, dan luasnya sampi seribu kilometer pula. Dan yang lebih melindunginya lagi tandusnya daerah ini yang luar biasa hingga semua penjajah merasa enggan melihatnya. Dalam daerah yang luas itu sungai pun tidak ada. Musim hujan yang di jadikan pegangan dalam mengatur usaha juga tidak menentu. Kecuali daerah Yaman yang terletak disebelah selatan yang sangat subur tanahnya dan cukup banyak curah hujannya, wilayah Arab lainnya terdiri dari gunung-gunung, dataran tinggi, lembah-lembah tandus serta alam yang gersang. Tak mudah orang dapat tinggal menetap atau akan memperoleh kemajuan. Sama sekali hidup didaerah itu tidak menarik selain hidup mengembara terus-menerus dengan mempergunakan unta sebagai kapalnya ditengah-tengah lautan padang pasir, sambil mencari ladang hijau untuk makanan ternaknya, beristirahat sebentar sambil menunggu ternak itu menghabiskan makanannya. Sesudah itu berangkat lagi mencari padang hijau baru ditemapat lain. Tempat-tempat beternak yang dicari orang-orang Badui Jazirah biasanya disekitar mata air yang menyumber dari bekas hujan, air hujan yang turun dari celah-celah batu di daerah itu. Dari situlah tumbuhnya padang hijau yang terserak disana-sini dalam oase-oase yang berada disekitar mata air.

Tidak Dikenal, Selain Yaman

Yaman

Yaman

Sudah wajar sekali dalam wilayah demikian itu, yang seperti sahara Afrika Raya yang luas, tak ada orang yang dapat hidup menetap, dan cara hidup manusia yang biasapun tidak dikenal. Orang yang tinggal didaerah itu tidak lebih dari sekedar menjelajahinya dan menyelamatkan diri saja_kecuali di tempat-tempat yang tak seberapa, yang masih ditumbuhi rumput dan tempat beternak. Juga sudah wajar pula tempa-tempat itu tidak dikenal karena sedikitnya orang yang mau mengembara dan mau menjelajahi daerah itu. Praktis orang zaman dahulu tidak mengenal Semenanjung Arab, selain Yaman. Hanya saja letak itu dapat menyelamatkannya dari pengosongan penduduk dan mereka dapat bertahan diri.

Pada masa itu orang belum merasa begitu aman mengarungi lautan guna mengangkut barang dagangan atau mengadakan pelayaran. Dari peribahasa Arab yang dapat kita lihat sekarang menunjukkan, bahwa ketakutan orang menghadapi lautan sama seperti dalam mengahadapi maut. Tetapi, bagaimanapun juga untuk mengangkut barang dagangan harus ada jalan lain selain mengarungi laut, yang paling penting transportasi perdagangan masa itu harus ada antara Timur dan Barat: antara Romawi dan daerah-daerah sekitarnya, serta India dan sekitarnya. Semenanjung Arab masa itu merupakan daerah lalu lintas perdagangan yang dapat dicapai melalui Mesir atau melalui Teluk Persia, lewat terusan yang terletak di mulut Teluk Persia.

Raja-raja Padang Pasir

Sudah wajar sekali bilamana penduduk pedalaman semenanjung Arab itu menjadi raja sahara, sama halnya seperti pelaut-pelaut pada masa-masa berikutnya yang daerahnya kekuasaannya lebih banyak wilayah air dari pada daratan, menjadi raja lautan. Dan sudah wajar pula bilamana raja-raja padang pasir itu mengenal seluk-beluk jalan para kafilah sampai ketempat-tempat berbahaya, sama halnya seperti para pelaut, mereka sudah mengenal garis-garis perjalanan kapal sampai sejauh-jauhnya. “Jalan kafilah itu bukan dibiarkan begitu saja,” kata Heeren, “tetapi sudah menjadi tempat tetap yang mereka lalui. Didaerah padang pasir yang luas itu, yang biasa dilalui para kafilah, alam telah memberikan tempat tertentu kepada mereka, terpencar-pencar didaerah tandus, yang kelak menjadi tempat mereka beristirahat. Ditempat itu, dibawah naungan pohon-pohon kurma dan ditepi air tawar yang mengalir disekitarnya, seorang pedagang dengan binatang bebannya dapat menghilangkan haus dahaga sesudah perjalanan yang melelahkan. Tempat-tempat peristiahatan itu juga yang menjadi gudang perdagangan mereka, dan sebagian lagi dipakai sebagai tempat penyembahan, tempat ia meminta perlindungan atas barang dagangannya atau meminta pertolongan dari tempat itu.

Lalu Lintas Kafilah

kafilah semenanjung

kafilah semenanjung

Lingkungan semenanjung itu penuh dengan jalan kafilah. Yang penting diantaranya ada dua. Yang satu berbatasan dengan Teluk Persia, Sungai Tigris, bertemu dengan padang syam dan palestina. Itulah sebabnya mengapa batas-batas daerah sebelah timur yang berdekatan itu diberi nama Jalan Timur; sedang yang satu lagi berbatasan dengan Laut Merah, dank arena itu diberi nama Jalan Barat. Melalui dua jalan inilah produksi jalan-jalan di Barat diangkut ke Timur dan barang-barang dari timur diangkut ke Barat. Dengan demikian daerah pedalaman itu mendapatkan kemakmurannya.

Tetapi itu tidak menambah pengetahuan pihak Barat tentang negeri-negeri yang dilalui perdagangan mereka. Karena sukarnya menempuh daerah-daerah itu, baik pihak Barat maupun pihak Timur sedikit sekali yang mau mengarunginya_kecuali bagi mereka yang sudah biasa sejak masa mudanya. Sedang mereka yang berani dengan untung-untungan mempertaruhkan nyawa, banyak yang hilang secara sia-sia ditengah-tengah padang tandus itu. Bagi orang yang sudah biasa hidup mewah ditengah kota, tidak akan tahan menempuh pegunungan tandus yang memisahkan Tiamah dari pantai Laut Merah dengan satu daerah yang sempit itu. Kalaupun pada waktu itu ada juga orang yang sampai ketempat tersebut_yang hanya mengenal unta sebagai sarananya_ia akan mendaki celah-celah pegunungan yang akhirnya akan menyeberang samapai ke dataran tinggi Najd yang dikuasai padang pasir. Orang yang sudah biasa hidup dalam system politik yang teratur dan dapat menjamin segala kepuasannya, akan terasa berat sekali hidup dalam suasana pedalaman yang tidak mengenal tata tertib kenegaraan. Setiap kabilah atau setiap keluarga, bahka setiap peribadi pun tidak punya suatu system hubungan dengan pihak lain selain ikatan keluarga atau kabilah atau ikatan sumpah setia kawan atau system jiwar (perlindungan tetangga) yang diminta oleh pihak yang lemah kepada yang lebih kuat. Pada setiap zaman tata kehidupan bangsa-bangsa peadalaman itu memang berbeda dengan tata kehidupan di kota-kota. Ia sudah puas dengan cara hidup saling mengadakan pembalasan, melawan permusuhan dengan permusuhan, menindas yang lemah yang tak punya pelindung. Keadaan semacam ini tidak menarik perhatian orang untuk membuat penelitian lebih dalam.

Oleh karena itu daerah semenanjung ini tetap tidak dikenal dunia pada waktu itu. Dan barulah kemudian_sesudah Muhammad ‘alaihis-salãtu was-salãm lahir di tempat tersebut_orang mulai mengenal sejarahnya dari berita-berita yang dibawa orang dari tempat itu, dan daerah yang tadinya sama sekali tertutup sekarang sudah mulai dikenal dunia.

Sumber : Sejarah Hidup Muhammad_Oleh Dr. Muhammad Husain Haekal

 

One response to this post.

  1. sejarah luar biasa.. trimakasih

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: