PARA PENGUSUNG PESAN PROFETIS


Para pengusung Rislah

Para pengusung Rislah

Sejarah sering menyadarkan kita, perubahan dahsyat dalam masyarakat yang membingungkan atau membuat kita kehilangan arah, ternyata memiliki akar kontinyuitas jauh dimasa lampau. Dengan pendekatan sejarah, sangat mungkin tantangan perubahan akan mudah dikenali (kuntowijoyo 1993). Dulu, dalam sejarah, telah tercatat dengan tinta emas para pahlawan muda (hampir semuanya muda dan terpelajar tentunya). Mereka menggoreskan pena dilembar peradaban manusia. Siapa saja mereka?

“Maju, meski sendiri.” Ujar Ibrahim. Sejarah panjang Ibrahim senantiasa diiringi oleh peristiwa-peristiwa kesejarahan hebat yang (subhanallah) dilakukannya sendirian. Ideologi tauhid yang dia miliki dan perubahan yang harus dia lakukan dalam masyarakatnya, menemui tembok yang tebal, yaitu bapaknya sendiri. Pendidikan masyarakat yang dia lakukan dengan cerdas dan ilmiah_ingat diskusinyandengan Namrudz tentang Tuhan_harus berhadapan dengan masyarakat dan Negara sekaligus.

Sebuah tantangan besar, sebagaimana kondisi kontemporer sekarang ketika mahasiswa harus berhadapan dengan masyarakat yang agak ‘membenci’ aksi-aksi demonstrasi dan kritik sosial politik mahasiswa. Pilihan Ibrahim adalah maju dan terjunlah ia kedalam api, setelah berhasi melahirkan generasi baru yang ‘tahan banting’ untuk mengikuti milah-Nya.

“Dan kami pun memilih minggir,” ujar Ashabul Kahfi. Ketika masyarakat (dan Negara) kembali menghadang proses perubahan, pilihan lain adalah menyingkir sementara (memarginalisasikan diri). Tindakan ini adalah sebuah pilihan mahasiswa idealis ketika ide yang mereka bangun dan miliki, terhadang. Sebuah pilihan terberat bagi sebuah perubahan adalah pengasingan diri (‘uzlah) demi mempertahankan kemurnian ideology dengan keyakinan.

“Dan apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, Maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu, niscaya Tuhanmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusan kamu” (QS. Al-Kahfi: 16). Tentu, dengan optimisme bahwa mereka akan mendapat kekuatan (jasmani dan rohani) baru untuk melanjutkan perubahan.

“Perubahan, sampai detik terakhir,” tekad ashabul Ukhdud. Proses perubahan masyarakat selalu membutuhkan waktu (evolutif) ketika syarat revolusi tidak terpenuhi. Nasehat dari pemuda Ashabul Ukhdud untuk mahasiswa kontemporer adalah bahwa proses perubahan tidak mengenal waktu berhenti.

Perubahan  harus tetap dilakukan sampai detik terakhir. “Momentum perubahan” sesungguhnya adalah hal yang dapat dibuat. Proses pendidikan dan pemberdayaan masyarakat adalah proses pembuatan momentum itu sendiri. Ketika masyarakat telah tersadarkan, merekalah pembuat perubahan itu sendiri. Hal lain yang patut dipikirkan adalah, masyarakat adalah pihak yang selalu paling mudah menerima perubahan (karena mereka adalah konsumen perubahan itu sendiri) dan negara selalu saja adalah tembok terakhir pengahadang perubahan.

“Kami semua anak muda ,” kata para pemuda di sekitar Rasulullah. Islam, pada awalnya ditegakkan oleh sekelompok pemuda, seperti Utsman, Ali dan Zaid_yang tertua adalah Abu Bakar (usianya tiga tahun di bawah Rasul). Sejarah kemudian mencatat, bahwa muda dalam Islam tidak berarti pendiam. Lihatlah Bilal, Shuhaib bin Sinan ar-Rumi, Salman al-Farisi adalah pendukung kuat Rasulullah dalam menjalankan seluruh strategi dakwahnya.

Sumber:

IJTIHAD Membangun Basis Gerakan_Amin Sudarsono [Ketua Departemen Kastrat PP-KAMMI]

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: